Home > Renungan > Guru, Murid Dan Pekerja

Guru, Murid Dan Pekerja

Kesederhanan bukan merupakan suatu penghalang untuk memulai suatu pekerjaan yang besar. Ketiadaan adalah sebuah awal dari adanya sesuatu kecuali diri Allah SWT yang memang telah ada sebelum tergelarnya alam semesta. Kebesaran bukanlah diukur dari bangunan fisik yang tampak oleh mata. Kejayaan suatu peradaban bukanlah hanya milik masa lampau. Setiap saat Allah membukakan limpahan rahmatnya. Terpuruknya peradaban manusia saat ini bukan berarti terpuruk selamanya, selama manusia kembali kefitrah penciptaan Allah bahwasanya seluruh jiwa manusia bertauhid hanya mempertuhankan Allah semata, insyaallah kejayaan peradaban Islam akan kembali bersinar.

 

Pelajaran dari sebuah ilustrasi perjalanan guru dan murid melihat tiga pekerja.

Dalam sebuah perjalanan seorang guru bersama murid kesayangannya mereka bertemu dengan tiga orang yang sedang bekerja memindahkan batu-batu besar yang berbentuk persegi empat. Pekerja pertama mampu memindahkan 10 batu besar dalam waktu 5 jam. Pekerja kedua mampu memindahkan 50 batu besar dan pekerja ketiga mampu memindahkan 100 batu besar dalam waktu yang sama.

Sang guru bertanya kepada muridnya “Wahai muridku lihatlah ketiga pekerja itu dan apa pendatmu tentang ketiga pekerja tersebut. Yang manakah pekerja yang paling baik?”

Murid menjawab “menurut pendapatku pekerja yang mengangkat 100 batu itulah yang paling baik dan produktif, wahai guruku, kemudian baru yang memindahkan 50 batu dan pekerja yang mutunya terendah adalah pekerja yang hanya mampu memindah 10 batu dalam waktu 5 jam.”

Guru berkata “ apakah dasar dari penilaianmu? Apakah sudah bulat penilaianmu?”

Murid menjawab “ wahai guruku, orang bodoh sekalipun akan mengatakan pekerja yang mengengkat 100 batu itulah yang terbaik. Dia dengan tekun bersemangat istiqomah dan tak kenal lelah dalam bekerja tidak seperti pekerja pertama yang kita jumpai seperti seorang pemalas setiap sepuluh langkah berhenti seolah-olah dia enggan bekerja, maka bulat dan mantap penilaianku tidak akan salah”.

Guru berkata “ Demikianlah kamu seperti kebanyakan manusia yang menentukan penilaian terhadap sesuatu menurut persangkaan hawa nafsunya tanpa diteliti secara mendalam. Ingatlah Allah berwasiat kepada kita untuk selalu hati-hati jangan terjebak seperti orang kufur yang memandang indah pekerjaannya padahal yang dilakukannya akan membinasakan dirinya tanpa disadarinya. Kebenaran yang haq hanyalah disisi Allah. Marilah kita temui ketiga pekerja itu.”

Kemudian sang guru yang bijak ini bertanya kepada pekerja yang ketiga “ wahai bapak apa yang sedang anda kerjakan?

Pekerja itu menjawab “ Saya sedang bekerja mencari nafkah untuk saya berikan kepada anak istriku mengikuti sunah rasul dan semakin banyak batu yang saya pindahkan maka aku akan mendapatkan upah semakin banyak

Sang murid tersenyum puas dan berkata “ bukankah penilaianku tidak salah guru! Seorang lelaki yang giat bekerja untuk menafkai istri dan anaknya itu mulia, dan seorang lalaki yang tangannya rusak kasar bekerja maka tangan itu diharamkan tersentuh oleh api neraka.

Guru menjawab “ benarlah yang engkau katakan, rasulullah saw mengajarkan hal itu, tatapi aku belum bias menerima pendapatmu, marilah kita tanya pekerja yang lain

Kemudian sang guru yang bijak ini bertanya kepada pekerja yang kedua “ wahai bapak apa yang sedang anda kerjakan?

Pekerja itu menjawab “ Saya sedang memindahkan batu untuk membangun sebuah masjid sehingga dapat aku pergunakan untuk menegakkan sholat dan menyembah Allah bersama orang banyak, maka sambil memindahkan batu aku berfikir bagaiman cara menyusun batu ini menjadi sebuah bangunan masjid, dan saya lakukan semata-mata mengharapkan keridloan Allah semata”

Saat itulah sang murid mulai ragu terhadap pendapatnya dan sang guru kembali mengajak muridnya untuk menemui pekerja yang dinilai paling buruk oleh muridnya.

Kemudian sang guru yang bijak ini bertanya kepada pekerja “ wahai bapak apa yang sedang anda kerjakan?

Pekerja itu menjawab “ Saya sedang memindahkan batu untuk memb…” tiba-tiba mulutnya komat-kamit sambil beristigfar kemudian dia diam dan menangis.

Guru bertanya “ mengapa engkau menangis, dan mengapa setiap sepuluh langkah engkau berhenti sambil membungkuk dan terkadang sujud tersungkur dan kadang menangis.”

Pekerja itu menjawab “ baiklah karena kewajibanku menjawab pertanyaan saudaraku selama aku tahu, maka akan aku jelaskan. Sebenarnya saya sedang berfikir untuk membangun peradaban tauhid yang diridloi Allah dimulai dengan membangun masjid ini. Setiap langkah aku jalani dengan berdzikir dan berfikir bertasbih dan bertahmid bertakbir dan istighfar karena terkadang syaithon mengotori akalku dengan nama besar dan agar dikenang orang sehingga aku tertunduk ruku’ dan sujud untuk memurnikan kembali niat, dan aku menangis berharap pertolongan Allah karena begitu sulit menjadi menusia yang ikhlas mencari keridloan Allah saja. Dan sambil bersungguh-sungguh dan bertawakal aku memohon pertolongan dan petunjuk Allah bagaimana caranya menjadikan masjid ini sebagai pusat peradaban umatku. Itulah sebabnya setiap sepuluh langkah aku berhenti

Maka yakinlah sang murid bahwa dia salah besar dan terbukalah pintu hikmah baginya.

Sang guru menasehatinya” wahai anakku, ada kalanya yang kamu cinta itu buruk bagimu dan ada kalanya yang kamu benci itu sesungguhnya baik bagimu, Allahlah yang mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi sedangkan kamu sekalian tidak mengetahui”.

Advertisements
Categories: Renungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: