Archive

Archive for the ‘Renungan’ Category

Guru, Murid Dan Pekerja

June 22, 2012 Leave a comment

Kesederhanan bukan merupakan suatu penghalang untuk memulai suatu pekerjaan yang besar. Ketiadaan adalah sebuah awal dari adanya sesuatu kecuali diri Allah SWT yang memang telah ada sebelum tergelarnya alam semesta. Kebesaran bukanlah diukur dari bangunan fisik yang tampak oleh mata. Kejayaan suatu peradaban bukanlah hanya milik masa lampau. Setiap saat Allah membukakan limpahan rahmatnya. Terpuruknya peradaban manusia saat ini bukan berarti terpuruk selamanya, selama manusia kembali kefitrah penciptaan Allah bahwasanya seluruh jiwa manusia bertauhid hanya mempertuhankan Allah semata, insyaallah kejayaan peradaban Islam akan kembali bersinar.

 

Pelajaran dari sebuah ilustrasi perjalanan guru dan murid melihat tiga pekerja.

Dalam sebuah perjalanan seorang guru bersama murid kesayangannya mereka bertemu dengan tiga orang yang sedang bekerja memindahkan batu-batu besar yang berbentuk persegi empat. Pekerja pertama mampu memindahkan 10 batu besar dalam waktu 5 jam. Pekerja kedua mampu memindahkan 50 batu besar dan pekerja ketiga mampu memindahkan 100 batu besar dalam waktu yang sama.

Sang guru bertanya kepada muridnya “Wahai muridku lihatlah ketiga pekerja itu dan apa pendatmu tentang ketiga pekerja tersebut. Yang manakah pekerja yang paling baik?”

Murid menjawab “menurut pendapatku pekerja yang mengangkat 100 batu itulah yang paling baik dan produktif, wahai guruku, kemudian baru yang memindahkan 50 batu dan pekerja yang mutunya terendah adalah pekerja yang hanya mampu memindah 10 batu dalam waktu 5 jam.”

Guru berkata “ apakah dasar dari penilaianmu? Apakah sudah bulat penilaianmu?”

Murid menjawab “ wahai guruku, orang bodoh sekalipun akan mengatakan pekerja yang mengengkat 100 batu itulah yang terbaik. Dia dengan tekun bersemangat istiqomah dan tak kenal lelah dalam bekerja tidak seperti pekerja pertama yang kita jumpai seperti seorang pemalas setiap sepuluh langkah berhenti seolah-olah dia enggan bekerja, maka bulat dan mantap penilaianku tidak akan salah”.

Guru berkata “ Demikianlah kamu seperti kebanyakan manusia yang menentukan penilaian terhadap sesuatu menurut persangkaan hawa nafsunya tanpa diteliti secara mendalam. Ingatlah Allah berwasiat kepada kita untuk selalu hati-hati jangan terjebak seperti orang kufur yang memandang indah pekerjaannya padahal yang dilakukannya akan membinasakan dirinya tanpa disadarinya. Kebenaran yang haq hanyalah disisi Allah. Marilah kita temui ketiga pekerja itu.”

Kemudian sang guru yang bijak ini bertanya kepada pekerja yang ketiga “ wahai bapak apa yang sedang anda kerjakan?

Pekerja itu menjawab “ Saya sedang bekerja mencari nafkah untuk saya berikan kepada anak istriku mengikuti sunah rasul dan semakin banyak batu yang saya pindahkan maka aku akan mendapatkan upah semakin banyak

Sang murid tersenyum puas dan berkata “ bukankah penilaianku tidak salah guru! Seorang lelaki yang giat bekerja untuk menafkai istri dan anaknya itu mulia, dan seorang lalaki yang tangannya rusak kasar bekerja maka tangan itu diharamkan tersentuh oleh api neraka.

Guru menjawab “ benarlah yang engkau katakan, rasulullah saw mengajarkan hal itu, tatapi aku belum bias menerima pendapatmu, marilah kita tanya pekerja yang lain

Kemudian sang guru yang bijak ini bertanya kepada pekerja yang kedua “ wahai bapak apa yang sedang anda kerjakan?

Pekerja itu menjawab “ Saya sedang memindahkan batu untuk membangun sebuah masjid sehingga dapat aku pergunakan untuk menegakkan sholat dan menyembah Allah bersama orang banyak, maka sambil memindahkan batu aku berfikir bagaiman cara menyusun batu ini menjadi sebuah bangunan masjid, dan saya lakukan semata-mata mengharapkan keridloan Allah semata”

Saat itulah sang murid mulai ragu terhadap pendapatnya dan sang guru kembali mengajak muridnya untuk menemui pekerja yang dinilai paling buruk oleh muridnya.

Kemudian sang guru yang bijak ini bertanya kepada pekerja “ wahai bapak apa yang sedang anda kerjakan?

Pekerja itu menjawab “ Saya sedang memindahkan batu untuk memb…” tiba-tiba mulutnya komat-kamit sambil beristigfar kemudian dia diam dan menangis.

Guru bertanya “ mengapa engkau menangis, dan mengapa setiap sepuluh langkah engkau berhenti sambil membungkuk dan terkadang sujud tersungkur dan kadang menangis.”

Pekerja itu menjawab “ baiklah karena kewajibanku menjawab pertanyaan saudaraku selama aku tahu, maka akan aku jelaskan. Sebenarnya saya sedang berfikir untuk membangun peradaban tauhid yang diridloi Allah dimulai dengan membangun masjid ini. Setiap langkah aku jalani dengan berdzikir dan berfikir bertasbih dan bertahmid bertakbir dan istighfar karena terkadang syaithon mengotori akalku dengan nama besar dan agar dikenang orang sehingga aku tertunduk ruku’ dan sujud untuk memurnikan kembali niat, dan aku menangis berharap pertolongan Allah karena begitu sulit menjadi menusia yang ikhlas mencari keridloan Allah saja. Dan sambil bersungguh-sungguh dan bertawakal aku memohon pertolongan dan petunjuk Allah bagaimana caranya menjadikan masjid ini sebagai pusat peradaban umatku. Itulah sebabnya setiap sepuluh langkah aku berhenti

Maka yakinlah sang murid bahwa dia salah besar dan terbukalah pintu hikmah baginya.

Sang guru menasehatinya” wahai anakku, ada kalanya yang kamu cinta itu buruk bagimu dan ada kalanya yang kamu benci itu sesungguhnya baik bagimu, Allahlah yang mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi sedangkan kamu sekalian tidak mengetahui”.

Advertisements
Categories: Renungan

Jalan Surga Itu (Ternyata) Di Sekeliling Para Istri

June 22, 2012 Leave a comment

Suatu hari Rasulullah SAW menemui putrinya Fathimah Az-Zahra ra. Didapatinya putrinya itu sedang menggiling syair (sejenis padi) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu, sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada putrinya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah? Semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis”. Fathimah ra berkata, “Ayah, penggilingan dan urusan-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan aku menangis”.

Sang Batupun Taat Kepada Rasulullah


Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi putrinya. Fathimah ra melanjutkan perkataannya, “Ayah, maukah Ayah meminta Ali suamiku, mencarikan aku seorang pembantu untuk menolong aku menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah?”. Mendengar perkataan putrinya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia, dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu sambil berucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim”. Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu, sedangkan penggilingan itu berputar sendiri sambil bertasbih kepada Allah SWT hingga habis butir-butir syair itu.

Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, “Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT”, maka penggilingan itu berhenti berputar. Lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, “Ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan”.

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, “Bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah Az-Zahra di dalam surga”. Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Surga Bagi Para Istri


Rasulullah SAW bersabda kepada putrinya, “Jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat.

Ya Fathimah, seorang istri yang menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.

Ya Fathimah seorang istri yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka sejauh tujuh buah parit.

Ya Fathimah, seorang istri yang meminyaki dan menyisir rambut anak-anaknya, dan mencucikan pakaian mereka, maka Allah SWT akan mencatatkan baginya pahala seperti pahala orang yang memberi makan seribu orang yang lapar, dan memberi pakaian kepada seribu orang yang telanjang.

Ya Fathimah, seorang istri yang tidak mau menolong tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautsar pada hari kiamat.

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jika suamimu tidak ridha denganmu Aku tidak akan mendo’akanmu. Tahukah engkau wahai Fathimah bahwa ridha suami adalah ridha Allah dan kemarahannya adalah kemarahan Allah?

Ya Fathimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka para malaikat beristighfar untuknya. Allah SWT akan mencatatkan setiap hari seribu kebaikan baginya dan menghapuskan seribu keburukan darinya. Ketika ia sakit karena melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Ketika putranya lahir maka hilanglah dosa-dosanya sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya. Jika ia meninggal dalam proses melahirkan itu maka ia meninggalkan dunia dalam keadaan tanpa dosa. Kemudian didapatinya alam kuburnya adalah taman dari surga. Dan Allah SWT mengkaruniakan padanya pahala seribu haji dan seribu umrah serta seribu malaikat akan beristighfar untuknya hingga hari kiamat.

Ya Fathimah, seorang istri yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan hati yang ridha dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua. Dan Allah SWT akan memakaikan padanya pakaian yang hijau. Dan dicatatkan untuknya kebaikan sebanyak helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya. Dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah.

Ya Fathimah, seorang istri yang tersenyum di hadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat.

Ya Fathimah, seorang istri yang menghamparkan tempat untuk berbaring, atau menata rumah untuk suaminya dengan hati yang ridha, maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), “Teruskanlah ‘amalmu, Allah SWT telah mengampunimu semua dosa yang telah lalu dan yang akan datang”.

Ya Fathimah, seorang istri yang meminyaki rambut suaminya dan jenggotnya, memotongkan kumisnya, menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai surga. Dan Allah SWT akan meringankan sakarotul mautnya. Dan akan didapatinya kuburnya adalah taman-taman surga. Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka. Dan Allah SWT akan menyelamatkannya ketika melintas di atas titian Shirat”.

………………….

Maka apalagi yang menghalangi engkau wahai para istri dari surga Allah? Ridha, ikhlas dan bersungguh-sungguhlah dalam menjalani peranmu. Niscaya surga Allah yang menanti. InsyaAllah.

(Syarah ‘Uquudil lijjaiin-Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani)

http://www.sabilulhuda.org/index.php?option=com_content&view=article&id=158:jalan-surga-itu-ternyata-di-sekeliling-para-istri&catid=46:tulisan-dari-santri&Itemid=83

Categories: Renungan

Because I’am Not Perfect

Because I’m Not Perfect

dakwatuna.com
Mungkin aku tidak selalu ada untukmu kawan
Mungkin aku sering berkilah bila kau mulai terlihat manja
Mungkin aku mengabaikan setiap keluh kesahmu
Mungkin aku jarang atau enggan menyapa
Maaf jika ku hanya mampu berkata
Karena engkau adalah pelaku utama
Namun seribu kata yang kuucap
Hanya menjadi buih jika pun kau abaikan
Maaf jika ku membelakangi
Hanya ingin melihatmu menjadi kokoh
Dan lemahmu, biar Tuhan saja yang tahu
Kau tahu, bisa jadi lemahku lebih besar
Maaf jika ku mengabaikan
Karena aku bukan makhluk sempurna
Tak selalu kau dapati aku bahagia
Meski sedih jua tak ku tampilkan
Maaf jika kau merasa sepi
Sedang aku masih bergelar seorang kawan
Aku adalah si khilaf
Jangan hakimi keterbatasanku
Maaf, karena aku bukan Tuhan
Aku bisa menyakitimu
Dan kau bisa menyakitiku
Maaf, karena aku bukan Tuhan
Jadikan saja aku yang kedua
Jika kau terpuruk pilu
Biar aku menjadi tanganNya
Yang semoga bisa menyembuhkan luka
Namun…
Kau tak bisa bersandar padaku
Kau mungkin akan kecewa
Bila kau merasa jenuh
Jauhilah aku secukupnya
Bila kau merasa benci yang mendalam
Ingatlah tawa kita bersama
Kita adalah warna
Dunia indah yang berbeda
Duka dan bahagia
Biarlah singgah pada hati yang tenang

 

Sumber : htttp://dakwatuna.com/

Categories: Renungan
%d bloggers like this: